Puluhan Supplier dan Pekerja Blokade Proyek Long Segmen Lunyuk–Lenangguar, Tuntut Kejelasan Pembayaran”
Sumbawa
Puluhan massa yang terdiri dari pemasok, pekerja, dan masyarakat Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar aksi di lokasi proyek ruas panjang Lunyuk–Lenangguar. Massa bahkan melakukan blokade jalan proyek sebagai bentuk protes atas belum adanya kejelasan pembayaran kepada sejumlah pemasok dan tenaga lokal yang terlibat dalam pekerjaan proyek tersebut, Senin 21 September 2026.
Aksi ini menjadi puncak mengecewakan para pemasok dan masyarakat Lunyuk yang mengaku telah berulang kali menagih pembayaran kepada PT Amar Jaya Perkasa (AJP) selaku kontraktor proyek. Mereka menilai janji penyelesaian pembayaran yang selama ini disampaikan perusahaan tidak kunjung terealisasi.
Koordinator aksi sekaligus supplier, Supri Herman Aditya, mengatakan para supplier lokal telah berupaya membantu kelancaran pekerjaan proyek dengan berbagai cara. Namun, hingga kini sejumlah pembayaran kewajiban yang klaimnya belum terselesaikan.
“Kami hanya menjanjikan saja, namun realisasinya nol besar. Kami sudah berusaha membantu dengan maksimal. Jangan tipu kami dengan cara seperti ini,” ujar Aditya.
Menurut Aditya, permasalahan tersebut tidak hanya menyangkut pemasok, tetapi juga tenaga kerja dan masyarakat lokal yang ikut terlibat dalam proses pengerjaan proyek. Ketidakjelasan pembayaran membuat para supplier berada pada posisi sulit karena mereka juga harus menangani tuntutan dari pemilik barang maupun pekerja yang belum menerima pembayaran.
“Kami jadi dilematis. Mereka tidak mau tahu dan harus minta pembayaran. Sementara kami belum mendapat pembayaran dari PT AJP,” ungkapnya.
Ia menegaskan, blokade dilakukan bukan semata-mata untuk mengganggu proyek pekerjaan, melainkan sebagai bentuk tekanan agar masalah pembayaran segera mendapatkan kepastian.
“Inilah yang mendorong kami melakukan blokade di lokasi proyek. Kami hanya menuntut hak kami,” tegas Aditya.
Para pemasok mengaku telah berulang kali mendatangi pihak PT AJP untuk meminta penyelesaian. Namun, menurut mereka, pertemuan tersebut belum menghasilkan kepastian mengenai kapan dan bagaimana pembayaran akan diselesaikan.
Kondisi tersebut bahkan disebut telah menimbulkan tekanan di tingkat bawah. Para pemasok mengaku sering datangi pemilik barang yang sebelumnya memasok kebutuhan proyek, sementara para pekerja juga menuntut pembayaran atas jasa dan tenaga yang telah mereka keluarkan.