Mengenal Junaidi S.Pd.I., S.H., Aktivis Senior yang Siap Mengabdi untuk Desa Lekor
LOMBOK TENGAH — Nama Junaidi, S.Pd.I., SH kembali menjadi perhatian dalam dinamika pembangunan Desa Lekor. Sosok yang dikenal sebagai aktivis dan pernah dipercaya memimpin Karang Taruna Desa Lekor tersebut menyatakan kesiapannya untuk mengabdi dan memperjuangkan aspirasi masyarakat demi masa depan desa.
Junaidi diketahui memiliki pengalaman dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Rekam jejaknya sebagai aktivis organisasi kepemudaan dan aktivis kampus menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam menyuarakan kepentingan masyarakat.
Dalam keterangannya, Junaidi menyampaikan bahwa perjuangan untuk masyarakat tidak semata-mata dilakukan ketika seseorang menduduki jabatan tertentu. Menurutnya, pengabdian harus dilakukan kapanpun selama aspirasi yang diperjuangkan memberikan manfaat bagi masyarakat.
«“Selama aspirasi masyarakat itu bermanfaat untuk masa depan Desa Lekor, saya siap berbuat dan berjuang,” demikian pesan yang disampaikan Junaidi.»
Berangkat dari Aktivisme dan Karang Taruna
Perjalanan Junaidi di Desa Lekor tidak terlepas dari aktivitas kepemudaan. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Karang Taruna Desa Lekor dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Menurut keterangan yang disampaikan, sejumlah tokoh yang kini menjadi pejabat maupun tokoh masyarakat di Desa Lekor disebut pernah bersinggungan dengan gerakan kepemudaan dan aktivitas Karang Taruna. Jaringan sosial tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan politik dan pembangunan desa.
Junaidi juga memiliki pengalaman sebagai aktivis kampus di lingkungan IAIN Mataram. Dalam aktivitas kemahasiswaannya, ia disebut pernah menjalankan fungsi sebagai Menteri HAM dan Advokasi di organisasi mahasiswa kampus.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal dalam membangun keberanian menyampaikan aspirasi, melakukan advokasi, serta berkomunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Gagasan Desa Bangkit di Tengah Tantangan
Salah satu perhatian yang disampaikan Junaidi adalah kondisi Desa Lekor yang menghadapi tantangan dalam pembiayaan pembangunan desa, termasuk situasi yang disebut sebagai “desa tanpa DD”.
Dalam kondisi tersebut, Junaidi mendorong agar pemerintah desa tidak berhenti melakukan inovasi. Ia menyebut perlunya program-program unggulan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan membuka ruang bagi peningkatan ekonomi warga.
Junaidi juga menyatakan akan memanfaatkan jaringan yang selama ini dibangun di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk membantu mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Desa Lekor.
Menyediakan Pengabdian untuk Masyarakat
Bagi Junaidi, menjadi kepala desa bukan semata-mata persoalan jabatan, melainkan amanah untuk menjadi pelayan masyarakat.
Ia membawa gagasan untuk menjadikan Desa Lekor sebagai desa yang lebih mandiri, produktif, dan memiliki program pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Keberanian, vokal, idealisme, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat harus menjadi bagian dari kepemimpinan desa,” menjadi semangat yang dikaitkan dengan pencalonan Junaidi.
Dengan pengalaman aktivisme, organisasi kepemudaan, serta jaringan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, Junaidi menyatakan kesiapannya untuk ikut mengambil bagian dalam upaya membangun dan membangkitkan Desa Lekor.
Desa Lekor membutuhkan gagasan, keberanian, jaringan, dan kerja nyata. Bagi Junaidi, pengabdian kepada masyarakat merupakan perjuangan yang harus terus dilakukan demi masa depan desa.