Tradisi Menandu Peraje Kuda Kamput Tetap Jadi Primadona di Era AI

LOMBOK TENGAH — Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, termasuk hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), masyarakat Lombok masih terus mempertahankan tradisi dan budaya warisan leluhur. Salah satunya adalah tradisi menandu peraje dengan Kuda Kamput yang masih hidup dan menjadi bagian penting dalam berbagai acara begawe atau hajatan masyarakat.
Tradisi tersebut dapat ditemukan di masyarakat Dusun Kwang Rase, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. Bagi masyarakat setempat, menandu peraje menggunakan Kuda Kamput bukan sekadar rangkaian acara seremonial, melainkan sebuah warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, seni, dan kebersamaan.
Di tengah kehidupan modern yang semakin digital, tradisi ini justru menjadi daya tarik tersendiri. Ketika teknologi AI menjadi primadona di berbagai bidang kehidupan, masyarakat tetap menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus menghapus identitas budaya.
Kuda Kamput menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Tradisi menandu peraje memperlihatkan bagaimana budaya lokal dapat terus hidup dan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Pelaksanaan begawe dengan menggunakan Kuda Kamput juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat hubungan sosial. Warga bergotong royong, saling membantu, dan menjaga nilai kebersamaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Lebih dari itu, keberadaan tradisi Kuda Kamput perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pelestarian dan pengarsipan budaya lokal. Dokumentasi berupa tulisan, foto, video, maupun arsip digital penting dilakukan agar generasi mendatang dapat mengenal dan memahami sejarah serta makna tradisi tersebut.
Era AI bahkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana baru untuk memperkuat pelestarian budaya. Teknologi dapat digunakan untuk mendokumentasikan, mengarsipkan, membuat katalog digital, serta memperkenalkan tradisi Kuda Kamput kepada masyarakat yang lebih luas tanpa menghilangkan nilai asli yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, kemajuan teknologi dan pelestarian budaya tidak perlu dipertentangkan. AI dapat menjadi alat, sementara budaya tetap menjadi identitas.
Tradisi menandu peraje dengan Kuda Kamput di Dusun Kwang Rase menjadi salah satu gambaran bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Justru di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur agar tidak tertelan waktu.
Kuda Kamput bukan hanya bagian dari sebuah acara begawe, tetapi juga menjadi simbol identitas, kebersamaan, dan kekayaan budaya masyarakat Lombok yang patut terus dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di zaman AI, teknologi boleh semakin maju, tetapi tradisi dan jati diri budaya harus tetap hidup.Dhiy*