JUNIADI SPdI SH UNGKAP VISI BESAR CALON KADES LEKOR NOMOR 3: JARINGAN LUAS, FOKUS KERJA TUNTAS
Junaidi SPdI SH: “Jaringan Luas, Fokus Kerja Tuntas, Desa Lekor Hebat” — Dorong Perubahan Nyata, Bukan Sekadar Janji Politik
LEKOR, JANAPRIA – PANCER NTB.
Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Lekor, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, mulai mencerminkan gagasan perubahan yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur, penguatan penguatan, serta keberpihakan terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Calon Kepala Desa Lekor nomor urut 3, yang mendapat dukungan tim pemenangan yang dipimpin Junaidi SPdI SH sebagai sekretaris Tim 08, membawa semangat perubahan dengan mengusung slogan “Jaringan Luas, Fokus Kerja Tuntas, Desa Lekor Hebat.”
Nomor urut 3 tidak sekadar dianggap sebagai angka dalam kontestasi politik desa. Bagi calon tersebut, angka tiga memiliki makna historis tersendiri karena diyakini berkaitan dengan perjalanan kemenangan dalam sejarah Pilkades Lekor sebelumnya.
Namun, lebih dari sekedar simbol, calon nomor urut 3 menegaskan bahwa kemenangan sejati harus dibuktikan melalui kerja nyata, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.
BERANI BERJANJI, SIAP BERTANGGUNG JAWAB
Salah satu pernyataan paling tegas yang disampaikan calon nomor urut 3 adalah komitmennya terhadap perbaikan infrastruktur jalan yang mengalami kerusakan parah di sejumlah wilayah Desa Lekor.
Dalam mewujudkan visi dan misinya di hadapan masyarakat, ia menyatakan kesiapannya untuk mundur apabila selama lima tahun masa kepemimpinannya tidak mampu memperbaiki perbaikan jalan yang rusak tersebut.
Baginya, jabatan kepala desa bukanlah sekedar kedudukan atau kebanggaan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Ia menilai, seorang kepala desa tidak boleh hanya berbangga dengan jabatan, menikmati fasilitas kantor, atau menjalankan tugas secara formalitas. Kepala desa harus hadir di tengah masyarakat, memahami permasalahan di lapangan, dan bekerja mencari solusi.
“Apakah kita menjadi kepala desa hanya untuk gagah-gagahan? Apakah kita menjadi kepala desa yang hanya duduk di ruang ber-AC? Oh, tidak! Kepala desa harus fokus bekerja demi kepentingan rakyat,” demikian pesan yang disampaikan dalam gagasan kampanyenya.
Menurutnya, pembangunan jalan tidak cukup hanya mengandalkan dana desa. Diperlukan intensifikasi komunikasi, koordinasi, serta kemitraan yang baik antara Pemerintah Desa Lekor dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, termasuk dinas-dinas terkait.
TANPA KERJA SAMA BIROKRASI, PEMBANGUNAN SULIT BERGERAK
Calon nomor urut 3 menilai, tantangan pembangunan desa membutuhkan kepala desa yang memiliki kemampuan komunikasi, pengalaman sosial, serta jaringan birokrasi yang memadai.
Terlebih lagi, menurutnya, ketika ruang fiskal desa semakin terbatas, kepala desa harus mampu membuka akses pembangunan melalui program pemerintah kabupaten maupun instansi lain yang memiliki kewenangan sesuai bidangnya.
Jaringan birokrasi, dalam keterpaduan, bukan sekedar hubungan formal, melainkan instrumen untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat agar memperoleh perhatian dan penanganan yang tepat.
Ia juga menegaskan tidak ingin menjadikan jabatan kepala desa sebagai pekerjaan sambilan di tengah berbagai kegiatan usaha pribadi.
Pada dasarnya, kepemimpinan desa harus dijalankan dengan fokus, integritas, dan tanggung jawab penuh agar pelayanan publik serta pembangunan dapat berjalan lebih efektif.
DELAPAN GAGASAN UNTUK MEMBANGUN DESA LEKOR
Gagasan perubahan yang ditawarkan calon nomor urut 3 dirangkum dalam delapan butir visi dan misi yang menurutnya memiliki makna filosofis tersendiri.
Ia mempertemukan delapan butir tersebut dengan masa jabatan kepala desa yang kini berlangsung selama delapan tahun serta tantangan pembangunan ketika dukungan anggaran tidak selalu mencukupi kebutuhan masyarakat.
Selain itu, Pilkades tahun ini disebut sebagai momentum pemilihan kepala desa kedelapan dalam perjalanan Desa Lekor.
Melalui momentum tersebut, masyarakat diharapkan dapat memilih pemimpin yang tidak hanya memiliki keberanian berbicara, tetapi juga kecakapan intelektual, kematangan emosional, dan kekuatan spiritual.
Tiga karakter tersebut dinilai penting untuk membangun kepemimpinan yang bijaksana, mampu berkomunikasi dengan baik, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
JUNJUNG MUSYAWARAH, JANGAN POLITISASI ASPIRASI RAKYAT
Sekretaris Tim 08, Junaidi SPdI SH, dalam keterangannya di Praya, menegaskan bahwa kepala desa memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kemajuan Desa Lekor.
Menurutnya, kepala desa harus mampu membangun komunikasi yang baik, memahami persoalan birokrasi, serta memiliki jaringan yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Ia mengibaratkan kepala desa sebagai kepala dalam tubuh manusia. Ketika kepala tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, bagian tubuh lainnya akan ikut terdampak.
Oleh karena itu, ia berharap siapa pun yang terpilih kelak dapat membawa perubahan yang cepat, terukur, dan berkelanjutan agar Desa Lekor mampu bersaing dengan desa-desa lain.
Salah satu prinsip yang ditekankannya adalah pentingnya terselenggaranya hasil Musyawarah Desa (Musdes) dan Musyawarah Dusun (Musdus) yang telah ditetapkan sebagai prioritas pembangunan.
Aspirasi masyarakat, menurutnya, tidak boleh dipolitisasi. Program yang telah disepakati harus dilaksanakan secara transparan, adil, demokratis, dan bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku.
DRAINASE, AIR BERSIH, IRIGASI, DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI JADI SOROTAN
Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian dalam gagasan perubahan tersebut meliputi:
Drainase dan lingkungan: penanganan saluran udara serta kawasan yang masih kumuh.
Air bersih: mendorong solusi bagi wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan udara.
Irigasi pertanian: memperjuangkan perbaikan jaringan irigasi yang rusak dan belum tertangani.
BUMDes: mendorong evaluasi pengelolaan Badan Usaha Milik Desa agar kembali berfungsi secara produktif dan transparan.
Kepemudaan: memperkuat program pemberdayaan pemuda dengan pengelolaan anggaran yang akuntabel.
Kader Posyandu: meningkatkan perhatian terhadap kader yang selama ini menjalankan pelayanan masyarakat dengan penuh pengabdian.
Bagi Junaidi, berbagai permasalahan tersebut memerlukan kepemimpinan yang tidak hanya pandai menyusun program, tetapi juga mampu memastikan pelaksanaannya.
Ia menilai, pengelolaan potensi ekonomi desa harus dilakukan secara profesional agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung pembiayaan pembangunan sesuai peraturan yang berlaku.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah mengoptimalkan potensi aset dan sumber pendapatan asli desa untuk membantu menjawab kebutuhan pembangunan.
Namun pengelolaan aset maupun sumber pendapatan tersebut harus didasarkan pada kewenangan desa, ketentuan hukum, transparansi, dan pertanggungjawaban yang jelas.
PENGALAMAN SOSIAL MENJADI MODAL PERJUANGAN
Junaidi SPdI SH juga menyebut bahwa calon yang didukungnya telah memiliki pengalaman lapangan selama belasan tahun melalui berbagai lembaga sosial di NTB dan tingkat nasional.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal untuk memahami dinamika masyarakat, membangun hubungan kelembagaan, dan memperluas jaringan kerja sama.
Menurutnya, pengalaman sosial akan memiliki nilai lebih apabila diterjemahkan menjadi kebijakan yang tepat, pelayanan publik yang baik, serta program pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia berharap kepemimpinan Desa Lekor ke depan mampu mengedepankan keterbukaan, keadilan, demokrasi, dan tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan.
DESA LEKOR BUTUH PEMIMPIN YANG BEKERJA, BUKAN SEKADAR BERJANJI
Kontestasi Pilkades Lekor bukan hanya tentang nomor urut dan persaingan antarkandidat. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menilai gagasan, rekam jejak, kemampuan, dan kesungguhan setiap calon.
Bagi calon nomor urut 3, masa depan Desa Lekor harus diperjuangkan melalui kerja nyata, komunikasi yang kuat, dan keberanian menyelesaikan persoalan mendasar masyarakat.
Jalan rusak, kebutuhan air bersih, irigasi pertanian, lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi menjadi permasalahan yang memerlukan perhatian serius.
Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menilai apakah gagasan tersebut mampu diwujudkan menjadi program yang konkret dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Jaringan Luas, Fokus Kerja Tuntas, Desa Lekor Hebat.”
Slogan tersebut menjadi pesan utama yang membawa calon nomor urut 3 dalam menawarkan perubahan bagi Desa Lekor.
Kini, tantangan sesungguhnya bukan sekedar meraih kemenangan dalam Pilkades, melainkan membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat dapat dijawab dengan kepemimpinan yang amanah, kerja nyata, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.
PANCER NTB
Solusi Perisai Rakyat